Jumat, 15 Januari 2021

2020

                                                       TAHUN 2020

Setiap tahun berganti,banyak kenangan yang sudah terlewati,baik itu kenangan manis,pahit,suka maupun duka,tetapi kita selalu mensyukurinya dan berharap di tahun yang baru akan datang kebahagiaan.

Sama halnya dengan tahun ini,kita semua berharap akan datang kebahagiaan dan keceriaan,tetapi harapan tinggal harapan,memasuki awal tahun tepatnya tanggal 1 Januari 2020 bencana banjir datang,banjir yang sangat dahsyat,benar-benar tidak diduga yang pada awalnya kami pikir banjir hanya sekitar 30cm kali itu banjir masuk kedalam rumah sampai sedada orang dewasa sekitar 1 meter 20 cm.

Banyak barang-barang yang rusak, terutama barang elektronik seperti televisi,laptop,kipas angin,kulkas dan barang-barang yang lainnya.Bukan hanya itu berkas-berkas juga banyak yang rusak,buku-buku pelajaran anakku ikut rusak tidak bisa dipergunakan lagi.

Banjir waktu itu seperti banjir bandang,tidak hanya menyapu pepohonan yang ada,bangunan semi permanenpun ikut tersapu air banjir yang bisa dibilang seperti tsunami kecil karena seperti ada arus kencang yang meluluhlantahkan apapun yang dilewatinya.

Detik-detik sebelum banjir datang, pada tanggal 31 Desember 2019 hujan terus menerus dari sore hari sampai keesokan harinya dengan intensitas ringan,sedang dan lebat.Pagi hari tanggal 1 Januari 2020 air kali sudah cukup tinggi naiknya dan kondisi hujan gerimis,air got sudah mulai naik. 

Aku langsung mempersiapkan baju-baju anakku,aku dan suami untuk dibawa mengungsi,barang-barang,pakaian hanya aku naikkan satu baris,karena tidak terfikir banjirnya akan tinggi,karena rumah sudah direnovasi tahun 2017 ditinggikan sekitar 80 cm,jadi berfikir air tidak akan masuk rumah hanya sampai teras saja.

Saat aku beres-beres, anakku aku suruh mandi dan siap-siap untuk mengungsi, untungnya kami semua sudah sarapan pagi karena aku dan suami sudah bangun sejak shubuh. Mamah kebetulan sedang pergi keluar kota dengan kakakku dan sedang menuju balik ke rumah tapi terhadang banjir di jalan tol.

Air begitu cepat naik,ada sekitar 3 tas yang aku siapkan untuk mengungsi,listrik sudah aku cabut semua dari colokannya.Pada saat air sudah masuk teras dan rumah sekitar 10cm,kami semua masih diam didalam rumah,tapi air tiba-tiba saja naik dengan cepatnya,motor sudah tidak bisa diungsikan ke belakang karena air di jalan sudah sekitar 30cm dan arusnya cukup deras. 

Kami semua masuk rumah dan menutup pintu, ketika air sudah sekitar 40cm didalam rumah aku dan suami baru teringat bahwa anak kami belum diungsikan dan akhirnya dia diungsikan kerumah tetangga lewat genteng, saat anakku diungsikan,aku siap-siap untuk ngungsi juga, aku kumpulkan seluruh keberanianku untuk naik tangga dan melewati genteng-genteng rumahku untuk sampai kerumah tetangga, sebagai catatan badanku tinggi dan gemuk,jadi kalau aku salah injak maka genteng akan pecah.

Trauma pasti ada,karena setiap kali ada hujan besar kami terbangun dan tidak bisa tidur kembali,takut kalau-kalau banjir datang lagi. Ibu dan anakku mengungsi kerumah kakakku selama seminggu karena kondisi rumah yang tidak memungkinkan untuk mereka tempati.

Suamiku terpaksa ijin dari kantornya selama 4 hari karena motor yang biasa untuk berangkat kerja terendam dan butuh waktu untuk diperbaiki.Kami berdua perlu waktu 3 hari untuk bersih-bersih rumah dibantu oleh kakak-kakakku dan beberapa orang lain,tetapi itu belum benar-benar bersih hanya menghilangkan lumpur yang terlihat. Butuh waktu sekitar 1 bulan untuk membersihkan rumah dan perabotan dari lumpur bekas banjir yang dahsyat itu.Itupun masih ada yang belum benar-benar bersih.

Selesai bencana banjir datanglah bencana lain yaitu wabah COVID 19,yang lebih dikenal sebagai Corona,Bulan Maret tepatnya tgl 17 Maret 2020 itu pertama kali anak-anak belajar dari rumah secara online.

Pada awalnya anak-anak senang dan menikmati pengalaman baru,tetapi setelah beberapa bulan dan mendekati kenaikan kelas,mereka mulai bosan,karena tidak bisa bermain keluar bersama teman-teman,tidak bisa bertemu guru-guru mereka.

Tahun ajaran baru dimulai, anak-anak masih belajar dari rumah, mereka naik kelas dan mendapat wali kelas yang baru tetapi teman kelas yang sama.

Tahun 2020 benar-benar tahun yang penuh dengan ujian, bulan Oktober kami kebanjiran lagi walau tidak sedahsyat bulan Januari, banjir itu datang malam hari, mamah dan anakku sudah diungsikan kerumah tetangga yang rumahnya lebih tinggi.

Kali ini motor dan elektronik sempat diselamatkan, kebetulan saat itu kami punya hewan peliharaan,mereka kami ungsikan ke atap rumah,dan aku beserta suami mengungsi kerumah tetangga sebelah lewat tangga,tapi kali ini lewat depan jadi lebih dekat.

Singkat cerita mamahku diungsikan kerumah kakakku,anakku tetap menginap dirumah tetangga yang kebetulan memiliki anak sebaya dengan anakku. Banjir bulan Oktober datang pada saat hari Sabtu malam minggu. 

Banjir yang kedua ini suamiku ijin 3 hari dan kami dibantu oleh kakak iparku untuk bersih-bersih. Selama banjir di lapangan belakang diadakan posko banjir,kebetulan sebagian besar dari mereka tidak terkena banjir.

Posko itu ada selama seminggu,mensubsidi makan siang dan malam. Kami bersyukur memiliki tetangga-tetangga yang memiliki jiwa sosial dan solidaritas yang tinggi. Kami yang terkena banjir tidak merasakan namanya kelaparan dan kehausan.

Kerusakan yang diakibatkan banjir yang kedua ini tidak terlalu banyak,karena baju2 masih aku simpan dalam plastik didalam lemari, barang elektronik sebagian besar diungsikan kerumah tetangga sebelah.

Dibalik segala macam bencana yang menimpa, aku bisa mengambil hikmahnya, mungkin aku kurang bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah SWT berikan padaku dan keluargaku.

Posko bencana berubah fungsi menjadi tempat kumpul - kumpul dan makan - makan untuk penyegaran pikiran juga menghilangkan segala penat. 

Singkat cerita akhir tahun 2020, lingkungan Rt kami memiliki sebuah bangunan untuk fasilitas umum yang kegunaannya diperuntukkan untuk para warga Rt. Bangunan itu diberi nama PLATARAN, dari kita untuk kita.

Tahun 2020 bukan tahun terbaik untuk kita semua, terutama kami yang terkena bencana, tetapi kami tetap berharap dan berdo'a semoga tahun 2021 jauh lebih baik dari tahun 2020.













Minggu, 13 Maret 2016

Berfikir sebelum melakukan apapun

Dulu orang bilang mulutmu harimaumu,sekarang jarimu jerujimu
dibalik itu semua satu hal yang bisa disimpulkan adalah
apapun yang kita lakukan harus difikirkan  dulu
sebelum kita melakukannya,karena tidak semua yang kita
pikir itu baik belum tentu baik untuk orang lain bahkan
mungkin juga bisa menyakiti perasaan orang lain

Rabu, 16 April 2008

MENCARI BELAHAN JIWA
Dalam kesendirian kadang aku berpikir apa tidak ada sesosok lelaki yang Tuhan ciptakan dan kirimkan buat aku, sampai usiaku sudah menginjak angka 35 hari ini tepatnya, aku belum mempunyai seorang kekasihpun , padahal teman-temanku yang sesusia aku sudah menikah dan rata-rata dari mereka sudah memiliki anak.
Dalam keluarga besar dari pihak ayahku maupun ibuku tinggal aku yang belum menikah, adik sepupuku yang lebih muda dari akupun sudah menikah dan memiliki anak, setiap ada acara keluarga atau pernikahan, satu pertanyaan yang sudah kuhafal di luar kepala “kapan nikah, atau sudah punya pacar belum”.
Keluarga intiku sendiri tidak ambil pusing dengan kesendirianku, mereka pernah berkata selama kamu nyaman dengan keberadaan kamu seperti ini jalani saja, aku salut pada Ibuku yang tidak pernah ambil pusing dengan perkataan dan pertanyaan saudara-saudara iparnya yang sering menanyakan tentang kesendirian aku dan belum menikah padahal usiaku sudah cukup untuk menikah, setiap Ibuku ditanya dia selalu menjawab seperti ini “terserah sama anaknya saja, nanti kalo sudah ada jodohnya juga pasti nikah” dengan senyum mengembang dia selalu menjawab seperti itu. Lain halnya dengan Ayah yang selalu pilih diam bila ditanya alasannya kalau dijawab takut salah.
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang sering aku hindari, dan karena itu aku sering bilang pada Ibu dan Ayah untuk tidak ikut bila ada acara keluarga atau pernikahan saudara. Sekali waktu pada saat akan ada pernikahan Susi sepupu aku, aku pernah bilang seperti ini pada ayah.
“Yah, aku nggak ikut ya untuk acara pernikahan Susi ya,” pintaku
“Loh memangnya kenapa de, kamu tidak ada acara penting kan?” ayah malah balik bertanya
“Nggak ada sih yah, tapi aku udah bosan setiap kali ada acara pasti pertanyaannya itu terus,” gerutu aku
“Ya sudah, anggap aja mereka nggak ada, omongan mereka masuk kuping kanan keluar kuping kiri,” nasihat ayah
“Nggak enak kalau kamu nggak datang, nanti apa anggapan saudara ayahmu,” ibu menimpali
Setelah kejadian itu aku tidak pernah lagi menolak untuk diajak ke acara pernikahan atau acara keluarga, aku kasihan pada ayah, nanti malah jadi cibiran saudara-saudaranya, pasti anggapan mereka aku tidak datang karena untuk menghindar dari pertanyaan-pertanyaan mereka yang tidak bermutu dan terkesan memojokkan aku. Dari acara pernikahan yang satu ke pernikahan yang lain, baik itu saudara aku ataupun teman aku, pertanyaannya selalu standard, kapan nih nyusul atau loh kok datangnya sama ayah ibu pasangannya mana.
Aku bukannya tidak pernah pacaran atau tidak pernah punya kekasih, dulu aku pernah punya pacar itu pada masa aku kuliah dulu, tapi kami putus setelah hampir 3 tahun pacaran dan sudah ada rencana untuk menikah, tetapi aku merasa bersyukur dan berterimakasih pada Tuhan walaupun aku dipermalukan oleh lelaki brengsek itu. Malam itu 10 tahun yang lalu tepatnya pada tahun 1997 adalah malam lamaran aku dengan Dio, nama lelaki brengsek itu, seluruh keluargaku dan keluarganya berkumpul, dan acara berlangsung dengan hikmad sampai pada saat dia akan menyematkan cicin pada jemari manis kiriku, tiba-tiba datang seorang wanita muda yang sedang hamil dan berteriak bahwa lelaki yang menjadi pacarku itu adalah suaminya dan dia sedang mengandung buah hati mereka. Saat itu juga semua terkejut dan terdiam terpaku, mereka hanya saling pandang dan memandang kasihan padaku, karena tidak mampu menahan rasa malu, sedih dan marah aku terkulai lemas lalu tak sadarkan diri.
Pada saat aku sadar aku sudah ada di kamar dikelilingi oleh ayah, ibu dan keempat kakakku beserta istri-istri mereka, dari wajah mereka terlihat kesedihan yang mendalam, ketika aku ingat kejadian sebelum aku pingsan, aku menangis sejadi-jadinya, ibu dan kakak-kakak iparku ikut menangis dan memeluk aku berusaha menenangkan aku. Sementara ayah dan keempat kakak lelakiku hanya bisa terdiam. Semalaman itu aku meratapi nasib burukku, mengapa ini harus terjadi, mengapa laki-laki yang aku cintai ternyata menipuku mentah-mentah dan keluarganya sekaligus.Hari berganti pagi, mataku terlihat merah dan sembab karena menangis semalaman, disisi kanan ranjangku kulihat Ibu tertidur dengan lelap sambil terduduk, mungkin karena kelelahan menemani aku. Tidak hanya ibu seluruh keluargaku ada disitu kecuali kakak-kakak iparku yang masih mempunyai anak kecil. Tak terasa air mataku mengalir lagi mengingat kejadian semalam, Ayah yang mendengar isak tangisku terbangun dari tidurnya dan langsung membangunkan ibu sambil menghampiri aku.
“Yah, maafin ade ya, karena ade semua ini terjadi dan Ayah jadi malu sama keluarga besar, “ ujarku sambil terisak.
“Sudah, ini bukan kesalahanmu, kamu juga tidak tahu akan terjadi seperti ini,” ayah memeluk dan membelai rambutku.
Setelah semua sudah tenang dan keadaan sudah tidak mengharu biru lagi, keluarga kami dikejutkan oleh kedatangan keluarga Dio yang diwakili oleh kakak pertamanya dan pamannya, mereka datang untuk meminta maaf atas kejadian semalam, merekapun menjelaskan bahwa mereka tidak mengetahui perihal Dio yang sudah menikah secara siri dengan perempuan itu, menurut keterangan mereka malam itu mereka melakukan rapat perihal yang memalukan itu. Karena aku masih terbawa emosi kala itu, aku langsung melabrak mereka.
“Saya tidak butuh maaf dari kalian, tapi saya ingin Dio yang datang kesini, bertindak secara jantan jangan sembunyi dibalik ketiak keluarganya, laki-laki macam apa dia, dan saya juga tidak habis pikir kok bisa anaknya nikah tapi orang tua dan keluarganya tidak tahu,” emosiku meledak saat itu.
Ayah memang dikenal amat penyabar dan pendiam, beliau berusaha menenangkan aku dan langsung berbicara setelah aku sedikit tenang.
“Saya mohon maaf atas perkataan anak saya, karena dia sedang emosi dan sedih karena kejadian semalam,” ujar ayah dengan lembut
“Kami maklum pa, dengan perkataan yang dilontarkan oleh Farah, mungkin saya juga akan berkata yang sama seperti dia apabila kejadian semalam terjadi pada saya,” paman Dio memaklumi ucapanku
“Saya akan membicarakan hal ini dengan adik saya Dio dan akan menyuruh dia serta meminta orangtua kami untuk meminta maaf secara resmi kepada keluarga Farah,” Mas Arman kakak Dio menimpali ucapan pamannya
Setelah berbicara panjang lebar akhirnya mereka pamit dan berjanji akan datang bersama Dio dan orang tuanya. Dalam hati aku berkata, tidak mungkin laki-laki pengecut itu berani menghadapi aku dan keluargaku terlebih menghadapi Mas Doni yang temperamennya kasar dan cepat emosi bisa-bisa dia habis dihajar oleh kakak sulungku itu.
Hari demi hari berlalu, aku sudah mulai bisa melupakan kejadian itu dan mulai kembali beraktivitas di kantor, untungnya aku tidak pernah bilang akan dilamar oleh Dio pada teman sejawatku di kantor, jadi mereka tidak pernah tahu bahwa aku tidak jadi bertunangan dengan Dio karena ternyata cowok itu menipuku. Setiap mereka bertanya tentang hubungan aku dengan Dio selalu aku jawab aku sudah putus karena Dio berselingkuh dan punya pacar baru.
Suatu hari masih pada tahun yang sama yaitu tahun 1997, ketika kami semua sedang berkumpul di rumah untuk acara arisan keluarga, semua hadir karena ini adalah ajang kami semua sebagai keluarga besar bertemu satu sama lain setiap dua bulan sekali dan saat itu adalah giliran Ayah yang ketempatan. Tiba – tiba pada saat kami sedang bercengkrama dan sudah melupakan kejadian yang memalukan itu, mahluk laknat itu datang bersama orang tuanya.
“Mau ngapain elo kesini, mau ngancurin hidup adik gue lagi, dengan bilang elo udah punya anak dari istri elo itu?” bentak Mas Doni dengan tangan terkepal waktu melihat Dio datang
Emosinya tertahan ketika ayah menghampirinya dan membisikkan sesuatu, lalu dia mundur dan memanggil aku dan ibu untuk mendekati ayah.
“Maaf kalau kehadiran kami yang tidak diinginkan ini mengganggu,” ucap ayah Dio membuka pembicaraan.
Tidak tahu kapan datangnya tiba – tiba Pak de Wiryo (kakak Ayah sudah ada disampingku) dan langsung angkat bicara
“Memang kehadiran Bapak dan Ibu serta anak Dio tidak kami harapkan, karena kejadian itu sudah berlalu lama sudah hampir 2 bulan, saya heran kenapa baru datang sekarang bukan waktu setelah kejadian,”
“Kami benar – benar nyuwun sewu (minta maaf), kami tidak langsung datang setelah kejadian, karena terus terang kami sebagai orang tua merasa malu atas perbuatan anak kami dan ketidaktahuan kami tentang masalah dia sudah menikah,” ayah Dio berujar lagi
Sang terdakwa hanya bisa terdiam dan tertunduk tanpa berani melihat aku dan keluargaku, Ibunya yang biasa aku panggil bunda hanya terdiam dan sesekali menyeka air matanya. Aku tahu kenapa dia begitu sedih, karena dia sangat berharap aku bisa jadi menantunya karena menurut dia aku adalah calon menantu yang baik, memang selama aku berpacaran dan sampai nyaris bertunangan tidak ada satupun celah atau noda yang aku buat didepan orang tua Dio dan keluarganya, begitupun Dio, karena itulah karena kejadian itu kami semua terkejut dan seolah tidak percaya bahwa Dio bisa berbuat seperti itu..
“Pa, saya ingin yang mengucapkan kata maaf itu Dio langsung tanpa diwakili oleh Bapak ataupun bunda, saya hanya ingin tahu apakah Dio masih punya hati dan nyali untuk mengatakan kata “maaf” pada saya dan keluarga besar saya” ujarku terbata
Keinginanku terkabul dan dengan terbata-bata Dio mengucapkan kata maaf kepadaku dan keluarga besar karena telah membuat malu mereka semua.
“Saya,(terdiam sebentar), ingin mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya kepada Farah dan keluarga besar karena telah mempermalukan saudara – saudara semua atas kejadian tersebut, saya tidak berusaha membela diri disini, tetapi saya tidak langsung datang saat itu karena terus terang saya masih malu untuk bertemu dengan Farah dan keluarga besar, terutama untuk bertemu dengan Farah,” ungkapnya
Pembicaraan panjang lebar itu tanpa disadari dilakukan dengan berdiri dan tanpa mempersilahkan ayah dan Ibu Dio serta Dio masuk, jadi mereka diteras dan kami tetap di dalam.
“Nak, ada yang masih kamu ingin sampaikan pada Dio dan orang tuanya?” Tanya ayah
Aku mengangguk dan minta berbicara dengan Dio hanya berdua saja, sementara itu orang tua Dio pamit dan menunggu Dio dalam mobil. Aku dan Dio berbicara di teras, sementara keluarga besarku memperhatikan dari ruang tamu.
“Aku nggak nyangka kamu bisa setega ini sama aku Yo, emang apa sih salah aku ke kamu, sampai kamu tega bikin aku malu,”
Dio tertunduk lesu dan terdiam, mungkin dalam diamnya dia berpikir hendak menjawab apa.
“Jawab dong Yo, kenapa, apa karena aku nggak mau berhubungan intim sama kamu sebelum nikah, sementara perempuan itu mau dan bersedia melakukan apa saja demi mendapatkan kamu?”
“Aku minta maaf Fa, aku nggak bisa nahan diri saat itu, aku hanya terbawa nafsu sesaat dan menyesal hingga kini, kamu nggak salah malah aku menghormati prinsip kamu itu, memang aku lelaki tolol yang mau saja dibujuk oleh rayuan perempuan jalang itu, tolong maafin aku ya Fa, aku tahu ini amat sulit buat kamu, tapi aku mohon kamu mau memaafkan aku agar aku bisa tenang menjalani hidup ini,” ujar Dio sambil bertekuk lutut dihadapanku
Aku tak bergeming, rasa sakit hatiku belum pulih benar, tetanggaku masih sering membicarakan kejadian memalukan itu, masih kudengar gunjingan mereka walau mereka tersenyum bila bertemu aku, tapi pandangan menghina masih aku rasakan. Tapi aku berusaha berpikir jernih dan dewasa, lebih baik aku akhiri semua ini dengan tenang dan damai, akhirnya aku memaafkan Dio walau masih ada rasa sakit hati tetapi biarlah yang berlalu biar berlalu.
Setelah kejadian itu, aku masih menutup diri untuk berkenalan dengan lelaki, padahal saudara sepupu aku dengan gencar memperkenalkan aku dengan teman-teman lelaki mereka, tapi rasa trauma itu masih ada, jadi dengan halus aku tolak ajakan mereka bila mereka ingin berkenalan lebih jauh denganku.
Hari berganti hari, bulan demi bulan berlalu, tahunpun berganti tak terasa usiaku sudah menginjak usia 30 tahun waktu itu (lima tahun yang lalu), dan sebagian besar dari temanku sudah menikah bahkan adik sepupuku yang paling kecil sudah menikah, jadi tinggallah aku satu-satunya yang belum menikah dari keluarga pihak ayah maupun dari pihak ibu. Suatu malam lima tahun yang lalu.
“Nak, kamu masih trauma dengan kejadian itu, kok sampai sekarang kamu masih saja belum membuka diri untuk lelaki?” Tanya ayah tiba – tiba
Aku yang kala itu sedang nonton televisi terkejut mendengar pertanyaan ayah yang terkesan tiba – tiba dan spontan.
“Trauma sih tidak yah, tapi aku masih belum siap untuk dekat dengan laki – laki,” jawabku
“De, aku dengar sekarang Dio sudah cerai dari istrinya, kamu mau tahu kenapa?” Mas Tio menyelak
“Iya mas aku juga udah tahu, kejadiannya sebulan yang lalu kan, karena istrinya ketahuan selingkuh sama supirnya kan,” ujarku enteng
Ayah hanya tersenyum dan berdeham pelan, Ibu yang duduk disampingnya hanya diam
“Ternyata Allah, membalas perbuatan manusia dengan dibayar kontan ya, tidak dicicil,” Sysil kakak iparku ikut menimpali
“Terus de, apa sih yang membuat kamu belum siap untuk dekat dengan laki – laki, takut dibohongin lagi?” Tanya Mas Tio
“Mungkin juga mas, tapi sekarang aku minta pada semuanya, aku saat ini enjoy dan senang dengan keadaanku, jadi nggak perlu khawatir,” ujarku saat itu.
Sekarang waktu berlalu, 10 tahun sudah sejak kejadian memalukan itu dan aku masih tetap sendiri dan terkadang rasa sepi dan sendiri datang tiba – tiba menyergapku, terlebih apabila aku baru pulang dari acara keluarga atau acara pernikahan, pertanyaan mereka selalu terngiang ditelingaku.
Hari ini dikala usiaku menginjak 35 tahun, aku mulai berpikir dan merenung, mungkin karena sepuluh tahun belakangan ini aku sering menolak banyak pria, jadi sekarang pada saat aku butuh seorang pria mereka tidak datang. Mungkin dengan kemapanan dan segala fasilitas yang aku punya, dalam hal ini mobil, rumah (walaupun aku masih tinggal bersama ayah dan ibu, tapi aku sudah investasi dalam bentuk rumah), membuat kaum adam takut mendekatiku dan mungkin faktor usia yang sudah tidak muda lagi, mereka jadi berpikir ribuan kali untuk mendekatiku.
Hari ini aku benar – benar merasa kesepian dan sendiri, padahal di rumahku sedang diadakan acara ulang tahunku dan syukuran lahirnya keponakanku yang baru anak dari Mas Bram kakak yang diatasku persis. Saat aku meniup lilin, dan memberikan potongan kue pada ayah dan ibu, terlihat kesedihan di mata mereka yang tak bisa mereka sembunyikan dari aku, terdengar ucapan lembut dari Ibu saat mencium pipiku, “jodohmu sudah ada yang ngatur, jangan khawatir”, ayah memberi wejangan lain “tetap optimis jangan merasa minder, kamu tetap anak ayah yang paling istimewa” bisik ayah sembari mencium pipiku
Pada saat merasa sendiri dan berpikir yang tidak – tidak inilah Mas Doni datang dan memperkenalkan aku pada seorang temannya, namanya Rommy orang jawa tulen asli dari Solo, tetapi walau begitu logat bicaranya dan gerak geriknya sudah luntur karena sudah sejak lahir dia tinggal di Jakarta, sama halnya dengan aku, walaupun ayah dan ibu asli Jogyakarta tapi aku tidak bisa berbahasa jawa.
“De, kenalin ini Rommy temen mas Doni di kantor,”
Rommy tersenyum sambil mengulurkan tangannya dan kami berjabat tangan sambil menyebutkan nama masing-masing.
“Aku tinggal ya, silahkan ngobrol-ngobrol,”
“Mas, baru ya di kantornya mas Doni, kok saya nggak pernah ketemu kalau saya kesana?” tanyaku membuka topic
“Nggak juga saya udah kerja disitu selama 5 tahun, tapi memang ruangan saya tertutup jadi nggak kelihatan”
Aku mengangguk-angguk
“Oh ya, by the way selamat ulang tahun ya,” ujarnya sambil menjabat tanganku
“Makasih mas,” sambil membalas jabatannya
Kami ngobrol kesana kemari, hingga tak terasa para tamu lain hendak berpamitan, dan akhirnya para tamu pulang dan Rommy pun pamit pulang, sebelum pulang kami bertukaran nomer telepon dan Rommy berjanji akan menelpon aku.
Hari – hari aku lalui dengan biasa saja sama seperti hari sebelum akau bertemu dengan Rommy, hingga suatu hari telpon selularku berbunyi dan tertulis disitu nama Rommy, aku mengangkat dan menjawab telpon dari dia. Itulah awal dari semua kisah aku bersamanya, awalnya dia menelpon hanya untuk sekedar menanya kabar dan berlanjut hingga menanyakan sudah makan apa belum dan terkadang dia menyarankan aku untuk tidak pulang terlalu malam.
“Hallo, asalamualaikum,” sapa Rommy suatu waktu di telepon
“Waalaikumsalam, ada dimana mas?”
“Udah dalam perjalanan pulang, ade masih di kantor apa sudah di rumah?”
“Masih di kantor mas, lagi lembur, mungkin baru bisa pulang jam 9,”
“Ya sudah kalo begitu, hati – hati ya, nanti kalo mau pulang sms aku ya,”
“Iya mas, mas juga hati – hati ya,jangan ngebut,”
Ritual seperti itu sering sekali terjadi apabila aku sedang lembur hingga suatu saat aku harus lembur dan pulang hingga larut malam, tiba – tiba dia menelpon aku dan bilang sudah ada di lobby kantor aku, benar – benar kejutan yang mengesankan, itulah awal aku mulai merasa dekat dengan seorang lelaki dan merasa dilindungi dan disanjung. Hal tersebut terjadi sebelum aku dan mas Rommy menjalin hubungan kasih, kalau kata anak muda masih pdkt alias pendekatan. Aku merasa dia begitu perhatian denganku walaupun aku bukan pacarnya. Pernah aku menanyakan hal serius padanya, yang menyangkut hubungan dia dengan perempuan lain.
“Mas, aku mau tanya sesuatu, kalau mas nelpon aku terus jalan sama aku, kira – kira istri atau pacar mas marah nggak?” aku berusaha memancingnya
Mendengar pertanyaanku seperti itu dia hanya tersenyum, lalu mulai menekan tombol di telepon genggamnya.
“Mas mau telpon siapa?” tanyaku terkejut
“Telpon kakakmu mas Doni, biar dia yang jawab pertanyaan kamu,” ujarnya
“Jangan mas,” larangku tapi telpon sudah tersambung
“Don, adikmu Farahdilla mau nanya sesuatu kekamu nich,” ujarnya seraya menyerahkan telpon genggamnya padaku
“Hallo de, mau nanya apa?” sapa mas Doni sambil bertanya
“Nggak kok mas, aku cuman mau tahu sesuatu yang penting banget soal mas Rommy,” ujarku
“Soal apa, oh ya aku udah bisa nebak pasti kamu mau nanya dia masih single atau udah nikah kan, tenang de dia bukan pacar ataupun suami orang,”
“Ya udah kalo gitu, makasih ya mas,”
“Kamu ini aneh masa aku mau jerumusin adik sendiri sih, ya udah salam buat Rommy ya,” ujarnya sambil mengakhiri pembicaraan
Aku mengembalikan telepon genggam mas Rommy sambil tersipu malu.
“Maaf ya mas, aku tadi sedikit curiga sama kamu, soalnya aku pernah mengalami kejadian buruk dalam hidupku karena laki-laki,”
“Nggak apa-apa kok de, aku udah tau dari mas Donny, dia udah cerita semua tentang kamu ke aku, maka dari itu tadi aku langsung telpon dia,”
Dari situlah kami semakin dekat dan semakin intens bertemu, kadang – kadang dia menjemput aku kalo aku lembur atau menjemput aku di rumah untk mengantar ke kantor dan sering kali kami makan malam berdua sambil curhat. Hingga suatu malam dia memberitahukan aku suatu hal yang mengejutkan.
“De, kamu pasti akan kaget kalau aku memberitahu kamu soal ini, mungkin juga kamu akan menjauhi aku,”
“Memangnya kenapa mas, ada hal yang masih kamu tutupi dari aku?”
“Sebenarnya iya, tapi sebelum ini aku bicarakan ke kamu aku udah konsultasi sama mas Doni, dan dia bilang lebih cepat lebih baik aku menceritakan hal ini sama kamu,”
“Ada apa sih mas, aku semakin nggak mengerti,”
“Sebelum aku kenal sama kamu, aku pikir nggak ada perempuan yang hatinya sebaik kamu, apalagi sebelum ketemu kamu aku sudah denger cerita tentang kamu dari kakakmu, aku mulainya ragu untuk dikenalkan dengan kamu karena aku merasa memiliki kekurangan yang amat sangat,”
Dia terdiam sejenak dan mengambil nafas yang dalam sebelum melanjutkan pembicaraanya.
“Aku juga punya kenangan masa lalu yang kurang baik, aku dulu pernah menikah,”
“Apa,” ujarku kaget
“Iya, tahun 1997 aku menikah dan tidak selang berapa lama aku bercerai karena aku menemukan istriku selingkuh dengan teman kantornya,”
“Kami berpisah pada tahun 2002, hak asuh jatuh kepadaku karena melihat bahwa ibunya tidak memberikan contoh yang baik,” sampai disitu dia berhenti menunggu reaksi aku
Kala itu aku bingung mau berkata – kata apa, aku begitu tekejut mendengar pernyataannya, jadi selama ini aku melakukan pendekatan dengan seorang duda beranak satu yang menceraikan istrinya karena berselingkuh, dan tahun pernikahan dan tahun bercerainya sama dengan Dio mantan tunangan aku, aku sempat berpikir apa ini Dio yang mengoperasi plastik wajahnya dan merubah nama menjadi Rommy tapi kalau ditilik dari nama, Dio memiliki nama lengkap Rommy Anandio Utomo, pikiranku kacau.
“De, mengapa melamun, kamu sekarang setelah tahu tentang masa lalu aku, jadi benci sama aku ya?”
“Mas, jawab aku dengan jujur, apa mas menikah dengan perempuan yang bernama Kirana dan memiliki anak yang bernama Saptohadi Kusumo?”
“Bukan, itu bukan nama mantan istriku dan lagipula anakku perempuan, de aku bukan Dio mantan tunangan kamu, memang nama kami ada kemiripan, tapi aku bukan dia,” jelasnya
“Mas, bisa antar aku pulang sekarang, aku pusing mas,”
“Loh kamu kenapa, kamu sakit?”
Tanpa menjawab aku berdiri dari tempat dudukku dan berjalan menuju mobil mas Rommy yang diparkir tidak jauh dari tempat kami duduk, dia mengejar aku , sampai didepan mobil dia memegang tanganku.
“De, aku minta maaf kalo selama ini aku menutupi semuanya, tapi aku nggak bermaksud jahat sama kamu,”
“Mas, aku bener – bener cape, tolong anter aku pulang, kalau kamu nggak mau aku bisa panggil taksi,”
“Oke, oke kita pulang, aku antar kamu pulang.
Sepanjang perjalanan pulang kami berdiam diri, mas Rommy tidak berani untuk melakukan pembicaraan, sesampai di rumah aku langsung menuju kamar dan menangis sejadi-jadinya. Aku pikir mas Rommy sudah jujur padaku tapi masih ada yang ditutupinya dan itu tentang masa lalunya yang sudah pernah menikah, bukan persoalan dudanya tapi ketidakjujuran dia pada aku selama ini yang membuat aku kecewa, terlebih lagi mas Doni mendukung semuanya.
Ibu mengetuk pintu kamarku dan menghampiriku, dengan lembut dia membelai rambutku, dan dengan perlahan dia menanyakan ada apa. Aku menceritakan semua itu pada ibu dan dengan gaya khasnya sebagai seorang ibu dia hanya berkata
“Yang sabar, mungkin Allah sedang menguji kesabaranmu, ayah dan ibu akan selalu mendampingimu di saat senang maupun susah,”
Tanpa sepengetahuanku mas Rommy sedang berbicara dengan ayah di ruang tamu untuk menjelaskan duduk persoalannya.
Keesokan harinya, ayah mengajakku berdiskusi masalah mas Rommy.
“Ndo, ayah sudah dengar semua dari nak Rommy, memang dia salah karena selama ini dia menutupi tentang statusnya, itupun dia akui pada ayah semalam, tapi semua itu dia lakukan semata-mata sedang mencari waktu yang tepat untuk memberitahukan hal ini pada kamu,”
“Tapi yah, kenapa harus menunggu lama untuk menjelaskan pada Farah?” tanyaku
“Karena, awalnya dia ragu apakah kamu bisa menerima statusnya, tetapi setelah kakakmu memberi dia semangat maka dia memberanikan diri untuk memberitahumu soal itu, dia tidak bermaksud untuk membohongimu, percaya pada ayah,”
“Ayah yakin, kalau mas Rommy akan jadi jodoh Farah dan anaknya akan bisa menerima Farah sebagai ibu tirinya?”
“InsyaAllah, jika Tuhan menghendaki semua pasti akan berjalan dengan lancar,” ujar ayah bijaksana
“Makasih ya yah,” ujarku sambil memeluknya dan beliau mencium keningku
Tapi tidak semudah itu melumerkan hatiku, walau ayah sudah memberikan jaminan tetap saja aku belum mau menemui mas Rommy, baik itu lewat telepon ataupun bertemu langsung, itu terjadi selama dua minggu hingga pada suatu malam mas Rommy datang ke rumah dan kebetulan aku sedang duduk di teras, jadi aku tak bisa menghindar darinya.
“De, kamu masih marah sama aku?” tanyanya setelah kupersilahkan duduk
Aku diam, masih ada perasaan kesal dalam hati, tetapi pada saat melihat wajahnya yang kuyu dan dandanannya yang tidak seperti biasanya aku jadi tidak tega.
“Mas Rommy sakit, kok pucat sekali wajahnya?” tanyaku khawatir
Dia menggeleng pelan dan memainkan jemari tangannya. Ada rasa bersalah dalam diriku karena telah membuat dia seperti ini.
“Mas, Farah nggak pernah marah sama mas Rommy aku hanya kecewa kenapa mas menutupi hal yang sangat penting buat aku,”
“Iya aku ngerti aku salah, tapi aku masih trauma dengan kejadian sebelum aku ketemu kamu de,”
“Ya udah, sekarang semuanya masalahnya udah selesai, aku bisa nerima kamu apa adanya, toh kamu juga bisa nerima aku apa adanya,”
“Sekarang kamu pulang istirahat, biar besok lebih segar dan nggak loyo lagi,”
“Oke, besok aku pengen kita ketemu di tempat biasa dan aku akan membawa seseorang untuk aku kenalkan sama kamu,”
Keesokan harinya aku bertemu dengan mas Rommy di suatu tempat yang sudah ditentukan dan tak disangka ternyata dia membawa serta putrinya, wajahnya cantik mirip mas Rommy, kulitnya putih dan nampaknya pendiam.
“Laras, kenalin ini tante Farah, lengkapnya Farahdilla Pudjiastuti,” mas Rommy membuka pembicaraan
“Namaku Larasati Putri Anggoro, senang berkenalan dengan tante,” ujarnya seraya mengulurkan tangan dan tersenyum
Aku menerima uluran tangannya dan menjabat tangannya, anak yang sopan dan ramah pikirku.
“Benar kata papa tante cantik, oh ya tante teman dekat papa ya?” tanyanya polos
“Makasih pujiannya, iya tante temen dekat papa kamu,”
Akhirnya kami mengambil ruangan privasi agar tidak terganggu oleh orang lain. Ngobrol dengan Laras ternyata menyenangkan, hobinya tidak jauh beda denganku yang suka tantangan dan beladiri.
“Wah, berarti aku bisa belajar dong dari tante, biar cepet naik tingkat,” ujarnya setelah tahu aku juga pelatih beladiri
“Boleh aja, bisa diatur,”
Mas Rommy hanya mendengarkan kami ngobrol tanpa berusaha menyelak, hari sudah semakin larut dan Laras harus pulang karena sudah waktunya dia istirahat, sebelum berpisah dia mengucapkan senang bertemu aku dan ingin bertemu lagi lain waktu.
“Pa, Laras pulang sama pa amat aja ya, papa anterin tante Farah pulang,”
“Loh kok gitu, nggak apa – apa kok, tante bawa mobil sendiri jadi nggak perlu dianterin,”
“Nggak apa – apa tante, kan udah malem lagipula aku udah biasa kok sama pa amat,”
“Anterin tante Farah pulang ya pa,”ujarnya seraya mengecup pipi papanya sambil berlari menuju mobil yang sudah menunggunya
Sebelum hilang dari pandangan Laras sempat melambaikan tangannya dan aku membalasnya.
“De, kalau kamu keberatan aku anter pulang nggak apa – apa kok, aku bisa jalan – jalan dulu disini, baru pulang jadi kamu nggak usah merasa terpaksa harus aku anter pulang,”
Aku hanya memberikan kunci mobilku padanya dan berjalan pelan menuju mobilku, mas Rommy mengikuti aku dengan langkah yang semangat. Dalam mobil sebelum berjalan, aku memulai pembicaraan.
“Mas, jadi aku cuman teman dekat kamu ya?” pancingku
Tidak menjawab pertanyaanku, mas Rommy malah tersenyum dan mulai menjalankan mobil keluar dari areal parker tempat pertemuan kami.
“Loh kok nggak dijawab, kenapa bingung jawabnya?” ocehku tanpa kusadari bahwa mas Rommy membelokkan mobil kearah yang berlawanan dari rumahku
“Loh mas kita mau kemana?” tanyaku heran setelah sadar bahwa ini bukan arah menuju rumahku
“Aku ingin ngajak kamu ke suatu tempat yang special,” jawabnya singkat
Dalam diam aku bertanya, hendak dibawa kemana aku, tapi tidak ada perasaan buruk pada saat itu. Sesampainya di tempat yang dituju, aku terkejut disana sudah hadir keluarga aku yaitu ayah, ibu, keempat kakaku serta iparku dan keponakan-keponakan aku dan yang tak kalah kagetnya Laras ada disana.
“Mas , ada apa sih ini?” tanyaku kaget
Mas Rommy hanya diam dan tersenyum, sambil menggandeng tanganku dan berjalan mendekati seluruh anggota keluargaku. Laraspun berjalan menghampiri kami dan sambil menggegam tanganku dia berkata,
“Tante Farah, mau nggak jadi istri papa dan jadi mama buat Laras,” tanyanya
Aku terkejut mendengar pertanyaannya, karena aku benar – benar tidak siap dengan semua ini, tapi setelah aku melihat wajah ayah dan ibu yang berseri-seri dan memberikan kode bahwa mereka setuju aku menganggukan kepalaku tanda aku mau menjadi istri mas Rommy dan menjadi mama bagi Laras. Laras sangat senang sekali melihat anggukanku dia langsung mencium pipiku dan memelukku, sementara mas Rommy tersenyum dan mengucap syukur.
Malam itu adalah malam mas Rommy melamar aku, walau tanpa direncanakan suasananya tetap syahdu. Sebagai bukti cintanya padaku mas Rommy menyelipkan cincin di jari manis kiriku, sebelum menerima cincin itu aku menengok kanan dan kiri, takut – takut kalau ada perempuan yang berteriak dan mengaku sebagai istri mas Rommy, tetapi hal itu tidak terjadi.
Hanya 6 bulan kami mempersiapkan segala sesuatunya untuk pernikahan kami, dan hari ini kami menikah dengan disaksikan kedua orangtua kami, sanak saudara, keponakan dan juga Laras anak mas Rommy . Akad nikah terlaksana dengan lancar, resepsipun digelar, banyak kerabat dan teman – teman sejawat datang mengucapkan selamat.
Disela resepsi itu aku mengenang kembali pertemuan pertamaku dengan mas Rommy, tidak ada yang istimewa pada saat itu hingga suatu hari mas Rommy menelpon aku dan dari situ kami sering bertemu dan saling curhat, tidak ada ungkapan ‘aku sayang kamu atau mau nggak jadi pacar aku” semua berjalan seiring waktu. Dihari pernikahan kami mas Rommy memberiku hadiah terindah untukku yaitu sebait puisi. Dan terbingkai indah dalam hatiku.
Dikala gundah menghampiri dan keputusasaan mendekati
Dikala sepi menghinggapi dan kesunyian mencekam diri
Dia hadir bagai sinar terang yang menerangi jiwaku yang gelap dan sunyi
Dan sinar itu tidak pernah redup walaupun dia tahu si pemilik hati sedang gundah dan setengah hati menerima cahayanya
Sampai akhirnya hati itu menerimanya dengan segenap perasaan dan jiwanya
Sinar itu bersinar dan berpendar memenuhi relung jiwanya

Selasa, 15 April 2008

Mama

Di saat aku sedang susah….aku selalu berpaling padamu

Di saat aku sedang merasa gundah….aku selalu teringat wajahmu

Di saat kesedihan menerpa…ku teringat ketegaran dan kesabaranmu

Di saat kesenangan datang….ku tebayang senyum mengembang di wajahmu

Mama….kau seorang ibu yang perkasa bagi kami

Mama…kau seorang ibu yang tegar di mata kami

Mama…kau adalah satu-satunya ibu yang paling hebat yang kami miliki

Mama….tidak ada satu orangpun yang bisa menggantikanmu di hati kami

Kau berjuang demi kami anak – anakmu

Kau rela mengorbankan segalanya kecuali harga dirimu demi kami anak-anakmu

Kau selalu menjadi insipirasi bagi kami anak-anakmu

Kau akan selalu menjadi pelita penerang bagi hidup kami anak-anakmu